www.selular.co.id
(Rabu, 31 Desember 2008)
Penampilannya biasa saja. Tidak nampak kalau pria berkaca mata ini seorang ahli dalam merakit bom lewat kecerdasannya meramu bahan kimia semasa SMA. Ledakan bom yang cukup besar hasil karyanya, meninggalkan satu luka di bibirnya yang hingga kini masih menjadi bukti bahwa ledakan beebrapa tahun lalu itu memang berasal dari campuran bahan kimia yang diolah oleh Ferrij Lumoring, seorang sarjana elektro jebolan Universitas Indonesia.
Bapak dua anak yang tinggal di kawasan Cempaka Putih ini kini tidak lagi berkutat dalam ramu-meramu bahan kimia. Ia kini konsen pada dunia elektronik berupa konten untuk aplikasi mobile. Tugasnya cukup berat di perusahaan yang sudah setahun di masukinya. Mengembangkan bisnis konten. Teknologi BREW jadi perhatiannya untuk terus mengembangkan bisnis konten provider dengan sasaran pengguna kelas bawah. Menurutnya semakin low end, revenue akan semakin tinggi.
Sekali bicara via telepon, ia langsung menyanggupi untuk menerima tim Selular untuk melakukan wawancara khusus sepulangnya dari luar kota. Berikut pandangan-pandangannya mengenai perkembangan industri konten hingga saat ini khususnya BREW. Wawancara dilakukan dikantornya, Graha Orange, Mampang Prapatan:
Apa latar belakangnya Jatis konsen di BREW?
BREW ini dari artinya saja adalah minuman keras. Di logonya ada seperti uap-uap gitu. Dia mirip Java sich, kalau Java kopi dan ada uap-uapnya. Bedanya kalau BREW ini bisa ke low end. Kalau Java, aplikasi ini sudah pasti butuh resource besar. Dari semua aplikasi programming, Java paling gede. BREW ini dibuat pake C, bukan pakai Java. Sedangkan J2ME pakai Java. Dengan C, aplikasinya bisa memiliki speed yang tinggi size-nya kecil. Sehingga dia bisa running di processor yang low speed dengan resource yang sangat terbatas. Makanya dengan handset yang 300 ribu ke bawah bisa berjalan. Beda sekali dengan Java, BREW ini benar-benar low end. Saat awal-awal keluarnya J2ME, harga handsetnya mencapai 3 jutaan. Cari yang dibawah 2 juta sangat susah. Sekarang sudah ada yang diatas 1 juta, tapi yang dibawah 1 juta masih sulit dicari.
Bagaimana BREW saat ini dan operator mana saja yang aktif dan konsen dalam hal ini?
Waktu Qualcomm masuk, dia ajaklah Jatis. Karena Jatis salah satu IT solutions besar di Indonesia. Trus bikin training untuk mengenalkan BREW dengan gandeng ITB. Tapi gak berkembang, dulu itu operatornya Esia. Tahun 2007 lalu, ada tanda-tanda ternyata yang lebih serius, mengikuti perkembangan BREW dan berniat membeli server yang namanya BDS (Brew Delivery Service), adalah Mobile-8. Server ini untuk menampung semua aplikasi BREW dan bisa dikontrol dari server itu. Harganya sekitar 300 ribu US$. Dengan dia mulai beli, ini baru mulai berkembang dan jalan.
Jadi sebelumnya memangn tidak berkembang sebagai aplikasi potensial?
Iya, sebelumnya hanya sebatas teori saja dan kita buat aplikasi tapi jualnya kemana. Kebetulan saya join ke Jatis pada bulan Juni. Sebelumnya saya di Visitel. Setidaknya saya tahu kalau Jatis kuat di IT solutions sedangkan di VAS Jatis kalah dengan visitel. Dari dulu saya pingin bersaing dengan Jatis untuk VAS-nya. sekarang malah saya disini, sehingga saya akan mengembangkan Jatis Mobile VAS-nya Jatis. Dengan dukungan perusahaan yang besar dan kuat, mobile marketing nomor satu, ya udah cocok.
Waktu launch, aplikasi kita sedikit, prgrammer kita juga sedikit. Paling kita ajak anak ITB yang dulu sempat kita training. Tapi mereka sudah banyak yang kejra malah menawarkan di outsource saja, kita jadi susah dan gak bisa pegang. Akhirnya kita kasih usulan ke Qualcomm untuk mengadakan roadshow ke kampus-kampus berpotensi yang IT-nya bagus-bagus. Setelah itu kita bikin lomba untuk membuat aplikasi-nya, namanya Creative Summer. Ada beberapa Perguruan Tinggi yang kita ajak, Binus, UGM, ITS, UI dan IT Telkom. Dengan begitu kita sama saja sudah mencipta berbagai konten lokal.
Dari sisi Bisnis bagaimana? Bisnis gaming JAva saja kurang bagus perkembangannya. Belum lagi kelihatannya industri konten kurang begitu didukung oleh operator?
Waktu di roadshow itu saya pernah hitung, coba kita bayangkan kalau CDMA ow end itu kita kasih BREW. Satu subscriber bisa menghasilkan 500 perak saja sebulan. Gak banyak dong ya, CDMA sekarang ada 20 juta, kalau dikalikan 500, sudah berapa banyak tuh? di M8, aktif subscribernya yang dulu masih 100 ribu, paling banyak 300ribu bisa menghasilkan revenue net (buat Jatis-nya) Rp. 90 juta. Gimana kalau jutaan hitungan subscribernya? Itu belum banyak aplikasi dan masih nunggu juga yang belum pada lulus sebagai pembuat aplikasinya. Kalau dibilang potensi, justru low end sangat berpotensi dan berkembang pesat.
Apakah GSM nantinya juga bisa dikembangkan aplikasi BREW?
Bisa! Saya sempat menawarkan ke operator, asalkan operator mau mundur ke 2G. Operator mendorong vendor untuk ke 2G, kita bisa masukkin BREW disitu, GSM bisa. Kuncinya di opeartor, apakah mau? Setelah di M8, Esia juga akan mengembangkan ini meski tanpa server seperti M8. Esia modelnya di-inject, seperti Esia Hidayah, itu sudah tertanam didalam. Dia juga punya viva news, juga mau dimasukkan ke dalam situ. Kita tahu bahwa mobile adalah media ketujuh, jadi ngapain kita pasang iklan di luar, cukup pasang disini. Konsepnya power full di BREW. Kita bisa denger dulu, baru download kalo suka. Itu potensi banyak banget, seperti friendster, facebook, itu semua bisa mobile dan media men-drive orang. Kita punya bukti bahwa semakin low end, revenue semakin tinggi.
|