Jatis is a leading e-solution provider,
from both business and technical
perspective.
     
SITE SEARCH
  Go
Home
About Us
Newsroom
Corporate Governance
Contact
Career
Jatis Solutions
Jatis Mobile
Firium
Home > Newsroom
  Jatis in the News
  Penelpon Dapat Lagu Provider Dapat Laba
   

 Tabloid KONTAN

September-Oktober 2008

 

Kini menelpon hape orang bisa menjadi hal yang menyenangkan. Karena, sembari menunggu handphone diangkat, kita bisa ikut mendengarkan nada sambung pribadi alias ring back tone (RBT) yang dipasang si pemilik HP. Banyak, lo, yang memasang lagu - lagu terbaru atau top 40, baik keluaran artis asing hingga lokal.

Konon, bisnis ini awalnya berkembang di Korea, kaum muda di Negeri Ginseng itu rupanya punya apresiasi musik yang tinggi. Disana RBT ibarat bentuk identitas pribadi. Ternyata hal yang sama juga berlaku di Indonesia " orang suka pakai RBT Buat representasi diri," Ujar Gagan Gandara, Manajer umum kantongmusik.com, salah satu situs penyedia RBT.

Dengan kata lain, masyarakat ingin dikenal kepribadian dan selera musiknya lewat RBT yang terpasang pada ponselnya. Nah, budaya ini tentu membawa berkah tersendiri buat beberapa usaha yang bersentuhan dengannya. Sebut saja dari mulai operator seluler, label rekaman, hingga ke para penyedia layanan isi. Thinkway Studio misalnya. meski baru memasuki binis RBT sejak bulan April, salah satu pemasok RBT yang berbasis di Bandung ini telah mendapat respon yang sangat positif. "Setiap artis di download  100-200 kali perbulan,". Ujar Andy Franciscus, Direktur kreatif Thinkway. Kini ada sekitar 15 artis yang berada dibawah payung Thinkway.

Membeli tren  

Tapi, jangan keburu senang dulu. Pengunduhan RBT yang bak kue donat ini bukan berarti pasarnya berkembang pesat. Gagan mengatakan, pasar RBT sangat bergantung pada pertambahan konsumen yang mulai menggunakan HP. Sementara itu, pengguna HP lama yang tak pernah menggunakan RBT kecil kemungkinannya menggunakan RBT.

Soalnya, RBT ini bisa dikatakan hanyalah sebuah bisnis gaya hidup. Jadi, konsumen yang sudah keluar duit buat beli RBT sebetulnya tidak akan menikmati RBT tersebut. "Makin lama orang semakin sadar bahwa mereka cuma membeli Tren" ucap Gagan. Tjandra Tedja, Direktur Indonesian Mobile and Online Content Provider Association (IMOCA), bilang saat ini ada sekitar 8 juta pengguna RBT. Bila dibandingkan dengan total pengguna ponsel yang 120 jutaan orang, berarti jumlah pemakai RBT Saat ini hanya 6,6%.

Dari jumlah itu, tentu juga tak ada satu pun yang bisa dipastikan menjadi pemakai setia RBT. Maklum, sekali men-download RBT, pelanggan dikenai tarif  Rp. 9000 per bulan. Pelanggan wajib membayar jumlah yang sama tiap bulan ingin lagu nada sambungnya terus terpasang. Bila pada saat waktunya Anda harus membayar pulsa di HP ternyata tak mencukupi, apes, deh. Pihak penyedia akan langsung memutus hubungan RBT Anda untuk sementara hingga pulsa cukup buat membayar biaya. Sebal, kan? Tjandra yang juga Presdir Alpha Omega, sebuah penyedia konten, menyebut salah satu tantangan dalam bisnis ini adalah adanya perang pulsa. Dengan perang pulsa, seorang pelanggan yang menggunakan operator tertentu dan telah mengunduh RBT bisa saja melenggang santai ke operator lain yang menawarkan tarif lebih murah. "Akhirnya penggunaan RBT-nya ikut mati juga," ujar Tjandra.   

Namun, bukan berarti bisnis ini tidak menjanjikan, lo. Kata Arie Suwardi Widjaja, Asisten Direktur Label Rekaman PT. Aquarius Musikindo, bisnis ini menyimpan banyak keuntungan. Karena, dalam menjual RBT, perusahaan rekaman atau label bisa menjual satu lagu. Nah, menjual satu lagu ini jauh lebih mudah dibandingkan menjual satu album. "keuntungan selanjutnya, RBT tidak mungkin dibajak" tutur Arie. Gagan pun mengakui bahwa kerugian inilah yang amat terasa bagi industri musik. Bayangkan saja, dari 19 juta keping compact disc (CD) yang terjual tiap tahun, hanya sekitar 2 juta keping yang tercatat menyetor pajak atau CD asli. dengan kata lain, sebagian besar CD beredar adalah bajakan.

Bisa jadi penyelamat industri musik 

Banyak yang berharap kehadiran RBT bisa menjadi penyelamat industri musik di Tanah Air. Sebab, penyedia koten RBT dan juga artis bisa memungut pendapatan dari tiap pengunduhan nada sambung itu. Prospek bisnis ini untuk maju juga terbuka lebar seiring terus berkembangnya industri telekomunikasi dan  juga musik. Selain Thinkway tadi, kantongmusik.com, misalnya, juga sudah menggandeng 70 artis major label dan 20 artis non-major label.

Selain itu, ia juga menyediakan RBT sound effect. Berbeda dengan lagu, sound effect ini memang hanya berisi efek suara. "Sound effect lucu dan suara DJ yang paling banyak dibeli," kata Gagan. Diantara sekian artis yang ada, Gagan menyebut bahwa Samsons dan Peterpan adalah artis yang lagu - lagunya yang paling banyak diunduh. Masing-masing mencapai 2 juta pengunduhan.

Lalu, ada lagi  beberapa artis besutan Aquarius, seperti Melly Goeslaw, yang lagu anyarnya, Gantung diunduh hingga 2,5 juta. kemudian lagu Matahariku milik Agnes Monica yang menempati urutan selanjutnya dengan jumlah 1,5 juta pengunduhan. Masing-masing penyedia RBT kelihatannya memang membidik pangsa pasar yang berbeda. Itu bisa dilihat dari jenis artisnya. Kantong musik senang dengan lagu top dari artis ngetop. Thinkway lebih banyak bermain diartis independen yang belum tersentuh major label, seperti killic, perfect plan dan master v.

Adapun Alpha Omega malah melihat peluang di lagu-lagu dangdut. Salah satu lagu dangdut yang RBT-nya dibuat dan dipopulerkhan Alpha Omega ialah dari penyanyi dangdut Della Puspita. Tapi, jenis lagu tak penting, yang penting apa pun jenis lagunya, labanya tetap top markotop.

Likiuditas cepat

Semua itu karena RBT termasuk salah satu bisnis yang mencetak likuiditas cepat. Hanya dengan mengirimkan pesan pendek registrasi, biaya RBT langsung terpotong dari pulsa pelanggan. Gagan mengatakan dari biaya unduh yang sekitar Rp. 9000, pendapatan kantongmusik.com berkisar antar antara 15-25%. Adapun major label  akan mendapat 55%, non major label 45% dan baru operator sisanya.

Aquarius mengaku mendapat Rp. 2.925 - Rp. 3.500 dari tiap pengunduhan RBT. Alpha omega menghitung, setelah dikurangi komisi buat operator, artis dan penyedia konten berbagi hasil masing - masing 40% dan 60%. Thinkway punya sistem unik. Perusahaan ini tidak mengutip tarif dari RBT. "Kami mengenakan tarif dari setiap brand consultant dengan klien, termasuk RBT, " tutur Andy. Dari biaya RBT, sebanyak 50% masuk ke operator. lalu sebanyak 25%-35% masuk ke artis, dan sebanyak 15%-25 % masuk ke penyedia konten.

Menurut Gagan, bisnis ini bisa memberikan pendapatan ke kantongmusik.com hingga Rp. 300 juta per-bulan, jumlah ini telah naik 200% ketimbang pendapatan tahun lalu ketika kantongmusik.com belum lincah bermain di bisnis ini. Sementara ini, Aquarius enggan membeberkan penadapatan per-bulannya. Kalau dihitung-hitung pendapatan dari lagu matahariku milik Agnes Monica yang diunduh 1.5 juta saja, Aquarius bisa mengantongi pendapatan Rp. 5,25 milyar.

Alpha Omega juga mengaku sebulannya bisa mengantongi pendapatan ratusan juta rupiah, bahkan milyaran rupiah. Sementara itu, Thinkway mengaku sejak punya divisi RBT, pendapatan perusahaan meningkat 20% dari tahun lalu yang hanya Rp 200 juta. Untuk bisa mendapatkan laba yang menarik, penyedia konten dan label harus pintar-pintar memproduksi RBT. Pemilihan bagian lagu yang akan diproduksi sebagai RBT menjadi hal yang tak kalah penting. Karena cuma sekitar 30 detik, label biasanya memilih bagian yang paling anyar dan ear catching di telinga pendengar untuk dipakai sebagai RBT. "Bisa di bagian lagu, bisa juga dibagian refrain," tutur Tjandra.      

 
    < back  
 
Home | Contact | Sitemap | Copyright 2007 PT Jati Piranti Solusindo. All rights reserved.